Penyakit Berak Darah (Koksidiosis)

Maret 10, 2010 pukul 11:31 am | Ditulis dalam peternakan | Tinggalkan komentar

Penyakit Berak Darah (Koksidiosis)

Koksidiosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh protozoa yang bernama Eimeria sp famili Eimeriidae atau yang lebih sering dikenal dengan penyakit berak darah, dimana Eimeria ini mengivestasi bibit mikroorganisme kedalam sel tubuh sehingga melahirkan gangguan kesehatan infestasi klinis yang merusakkan jaringan pencernaan terutama usus. Akibatnya terjadi pada proses pencernaan berupa gangguan metabolisme dan penyerapan zat makanan, bahkan kehilangan darah dari rusaknya jaringan usus, dan hampir pasti rentan terhadap penyakit lain dengan bercirikan diare berlendir warna gelap/darah yang sangat bau, bulu berdiri, lesu, lemah, menekuk leher (seolah seperti mengantuk), anemia, dehidrasi, kerdil.

Penyakit koksi menyerang pada ayam semua umur, akan tetapi umumnya lebih banyak menimbulkan akibat yang lebih parah yaitu pada umur yang muda karena lebih rentan terhadap masuknya penyakit. Kemungkinan kerugian yang ditimbulkan dari penyakit ini jelas terjadi berupa kemerosotan produksi yang cukup signifikan, serta menjadi pemicu gagalnya program vaksinasi, dengan titer antibody yang diperoleh akan rendah dan tidak optimal dapat memicu timbulnya penyakit lain seperti ND, Gumboro, Mareks bahkan Coryza atau biasa yang disebut infeksi sekunder.

Masa koksidiosis terjadi pada umur 3-6 minggu, untuk dibawah umur 3 minggu jarang terjadi. Di masa awal kehidupan sampai 6 minggu merupakan saat pertumbuhan dan perkembangan organ internal ayam (paru-paru, ginjal, jantung, hati dan usus), pada masa ini parasit yang masuk ke tubuh akan menuju ke usus, dan di organ ini akan melangsungkan siklus hidupnya, sebagian besar spesies ini berkembang biak di usus halus. Di organ ini akan menyebabkan luka, pendarahan dan kerusakan jaringan. Pendarahan ini terjadi karena robeknya pembuluh darah di epithel oleh schizont ataupun merozoit saaat menembus menuju lumen usus. Pendarahan mulai terlihat pada hari ke-4 pasca infeksi, dan pada hari ke 5-6 pendarahan terlihat lebih banyak. Kematian ayam akan terlihat mulai hari ke 4-6 setelah infeksi karena terjadi pendarahan hebat. Jika tidak mengalami kematian makan hari ke 8-9 akan memasuki masa penyembuhan. Pada masa penyembuhan ayam melakukan pembatasan sendiri (self limiting immunity), kekebalan ayam terbentuk siklus sempurna setelah ada infeksi ulangan 3-4 kali siklus dan akan protektif dimana kekebalan tersebut bertahan dalam waktu lama sepanjang ayam hidup.

Penyebab penyakit timbulnya penyakit koksi tidak hanya karena kebersihan kandang namun system dan pengelolaan kandang juga harus diperhatikan oleh karena itu sanitasi, tata laksana pemeliharaan dan manajemen kandang, pemberian antikoksidia harus dilakukan dengan ketat untuk mencegah munculnya penyakit ini.

Perbaikan tata laksana pemeliharaan

    1. Persiapan kandang postal dengan perlakuan khusus pada lantai untuk mengurangi jumlah ookista yang ada (dengan pemberian soda kaustik, pengguyuran dengan air panas/pembakaran), karena ookista tahan terhadap desinfektan. Ookista tidak tahan dengan temperatur lebih dari 550 C.
    2. Istirahat kandang yang cukup waktunya (min. 2 minggu)
    3. Pemeliharaan ayam dengan sistem kandang baterai/panggung, akan mengurangi kasus koksidiosis
    4. Tersedianya ventilasi kandang yang cukup dan lancar
    5. Hindari pemeliharaan ayam dengan kepadatan tinggi, maksimal 10 ekor/m2 untuk kandang postal
    6. Hindari penggunaan litter (sekam, serutan kayu) yang terkontaminasi oleh kotoran unggas lain dan jaga litter tetap kering
    7. Pakan dan air minum harus selalu cukup dan keadaan bersih, pakan harus mengandung nutrisi yang seimbang
    8. Mengurangi faktor imunosupresi pada ayam dengan meminimalisir cemaran mikotoksin dalam pakan, Kontrol IBD secara ketat
    9. Kontrol terhadap serangga dan rodensia di kandang dan sekitarnya.
    10. Meminimalisir perpindahan anak kandang
    11. Pemeriksaan kondisi ayam harian dan pelaksanaan bedah bangkai
    1. Pengendalian koksidiosis dengan antikoksidia

Pengontrolan dapat dilakukan dengan penambahan antikoksidia dalam pakan secara terus menerus. Pemberian obat ini dimaksudkan untuk mengontrol dan menekan perkembangan parasit dalam tubuh ayam sehingga jumlah parasit yang ada di tubuh ayam bisa ditekan dalam level rendah. Pemilihan antikoksidia harus hati-hati karena beberapa obat tertentu mempunyai efek toksik jika berinteraksi dengan lingkungan atau zat lain dalam pakan. Pemberian antikoksidia tunggal bisa dilakukan pada minggu ke-3,5 dan 7. Obat yang dipakai bisa dari golongan sulfa, amprolium, ataupun generasi baru seperti toltrazuril dan obat diberikan lewat air minum

  1. Pengobatan koksidiosis

Pengobatan dilakukan dengan sulfaquinoxalin dosis 0,04% dengan system 2-3-2 (2 hari diberikan, 3 hari berhenti dan 2 hari diberikan lagi), dengan sulfadimethoxine lewat air minum 0,05% selama 6 hari, Sulfamethazine 0,1% selama 2 hari dengan Amprolium 0,012-0,024% selama 3-5 hari, atau dengan toltrazuril 0,025% (atau 7 mg/kg berat badan) selama 2 hari.

Selain pemberian antikoksidia perlu dilakukan terapi suportif dengan vitamin A dan K dan Antibiotika. Vitamin A untuk mempercepat kesembuhan epitel mukosa usus yang rusak dan vitamin K akan mengurangi pendarahan yang terjadi. Sedangkan antibiotika akan mencegah infeksi sekunder oleh bakteri.

Untuk ayam yang positif terinfeksi sesegeralah mungkin untuk dikeluarkan dari kelompoknya. Buanglah kotoran bercampur darah dari ayam yang sakit untuk menghindari ayam lain mematoknya, hal ini karena warna merah pada kotoran menarik perhatian ayam lain dan terjadilah proses penularan dan penyebaran penyakit

Kebutuhan akan vitamin K bagi ternak pada umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya :

    1. Meningkatkan daya guna pakan dengan kadar vitamin K yang cukup
    2. Mensintesa mikro organisme dalam darah
    3. Meningkatkan daya absorbsi pakan yang tinggi
    4. Desktruksi yang dapat terjadi dalam saluran pencernaan yang disebabkan oleh koksidiosis dan jenis parasit
    5. Gangguan-gangguan metabollit lainnya (sulfaquinolon, dikumarol, warfarin)
    6. totalitas vitamin K yang diberikan induk pada anak ayam melalui tetas telur
    7. stabilitas preparat-preparat vitamin K dalam bahan makan atau yang sudah tersedia dalam tubuh.
  1. Vaksinasi terhadap koksidia

Salah satu cara untuk menginduksi kekebalan ayam dengan jalan vaksinasi, terutama untuk ayam yang dipelihara dalam jangka waktu lama di kandang postal. Untuk saat ini vaksin koksida dijual dipasaran dalam bentuk ookista non attenuated (tidak dilemahkan) atau yang attenuated (sudah dilemahkan). Macam spesies dalam sediaan vaksin juga bermacam-macam ada yang berisi 3 spesies atau 8 spesies sekaligus. Aplikasi vaksin bisa dengan cara di spray pakan dan diberikan pada awal kehidupan ayam (umur 4-10 hari).

Mengenal Lebih Jauh Eimeria

Koksidiosis disebabkan oleh makhluk hidup bersel tunggal (Protozoa) dari genus Eimeria sp. Secara keseluruhan ada 12 spesies diantaranya E. tenella, E. mecatrix, E.brunetti, E. acervulina, E. maxima, E. milis, E. mivati, E. pricox, E. hageni, E.tyssarini, E. myonella, E. gallinae. Sedangkan pada ayam dikenal hanya 9 spesies. Masing-masing spesies dibedakan berdasarkan lokasi lesi (ookista, schizont dan merozoitnya.), lokasi parasit di jaringan, period prepaten minimum dan waktu sporulasi.

Siklus parasit berawal dari masuknya stadium infeksi parasit yaitu ookista yang telah mengalami sporulasi ke dalam tubuh ayam lewat mulut.

  • Hari ke-1 di gizzard (ampela) dinding kista akan terkikis keluar sporozoit
  • Hari ke-2 stadium ini menembus dinding mukosa usus dan epitel usus merozoit akan menjadi trophozoit kemudian berkembang schizon generasi I
  • Hari ke-3 schizon I matang dan keluarlah merozoit ke lubang usus.
  • Hari ke-4 merozoit ini menembus epithel, kemudian tumbuh menjadi schizont II
  • Hari ke-5 pecahlah schizont II dan keluar merozoit II ke lubang usus.
  • Hari ke-6 merozoit II akan menembus epithel usus dan akan tumbuh ke stadium sexual yaitu mikrogamet dan makrogamet.
  • Hari ke-7 keduanya akan bertemu dan jadilah ookista baru yang akan dikeluarkan lewat feses ayam. Pada kondisi lingkungan yang cocok dengan kelembaban 20-30% temperatur 22-35 0C ookista akan mengalami sporulasi menjadi stadium infektif dalam waktu 2-3 hari.

Masing-masing spesies mempunyai tempat predileksi yang berbeda dan menimbulkan manifestasi yang berbeda, secara patologi anatomi dapat diketahui :

  1. E. acervulina dan E. mivati

Menyerang sepertiga bagian usus atas (anterior) dengan perubahan patologis adalah penebalan mukosa usus yang disebabkan oleh enteritis ringan sampai sedang. Terjadi perdarahan 1-2 mm yang diselingi oleh focci berwarna putih yang terletak di sepanjang serosa usus.

  1. E. necatrix dan E. maxima

Menyerang usus bagian tengah. E. necatrix ditandai dengan enteritis yang akan menyebabkan terjadinya kongesti, hemoragi, nekrotik dan feces bercampur darah. Hal ini ditandai dengan usus mengalami dilatasi, peradangan dan penebalan. Focci berwarna sampai kuning dan ptekie homoragi akan terlihat sepanjang serosa. Sedangkan E. maxima menyebabkan dilatasi dinding usus serta terjadi perdarahan.

  1. E. brunetti dan E. tenella

Menyerang sepertiga usus bagian bawah (posterior) dimana E. brunetti menyebabkan perdarahan pada colon. E. tenella pada kejadian awal sering terlihat terjadi perdarahan pada caecum dan feses sehingga akhirnya ditemukan perkejuan ditempat predileksi.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: