Penyakit jamur pada ayam

Maret 10, 2010 pukul 11:36 am | Ditulis dalam peternakan | Tinggalkan komentar

PENYAKIT JAMUR PADA AYAM

Salah satu penyakit yang diderita oleh ayam, baik itu ayam bibit, pedaging (Broiler) maupun petelur (layer) disebabkan oleh jamur atau kapang. Penyakit tersebut diantaranya adalah :

  1. THRUSH (Candidiasis, Moniliasis, Sour Crop)

Penyakit ini menyerang pada saluran pencernaan unggas dengan karakteristik penebalan dan plak putih pada mukosa khususnya pada tembolok, bisa juga pada proventrikulus, usus, dan kloaka yang berhubungan dengan keropeng ampela/gizzard erotion.

Penyebabnya adalah jamur Candida Albicans, dengan angka kematian dan kesakitan yang diderita rendah.

Penyakit ini bermula pada oral/mulut unggas, yang terjadi akibat penyakit ini adalah stress dan gizi yang jelek, dengan gejala klinis berupa nafsu makan menurun, ayam lesu, gangguan pada pertumbuhan dan diare. Lesio Post Mortum yang sering ditemukan adalah terdapatnya plak putih dalam mulut, esophagus, tembolok, lambung kelenjar dan usus.

Pengobatan menggunakan Nystatin (100 ppm dalam campuran pakan) selama 7-10 hari, cupri sulfat (1 kg/ton pakan) selama 5 hari atau kupri sulfat 1gr/2 liter air minum selama 3 hari pemberian

Pencegahan dengan menghindari penggunaan antibotik secara berlebihan dan stressor lainnya, dengan memastikan tingkat higienis yang baik. Kontrol Candida melalui pengobatan air minum kadang merupakan pencegahan yang praktis dengan pemberian disinfektan.

  1. Aspergillosis (Brooder Pneumonia)

Penyakit ini menyerang pada ayam muda dengan memiliki kasus kematian yang tinggi, sedangkan ayam dewasa dalam bentuk yang kronis, penyebabnya adalah jamur yang bernama Aspergillosis Fumigatus berbentuk organisme yang hidup dilingkungan peternakan, terutama pada litter dan pakan ternak yang lembab atau bahkan pada kayu atau material yang lembab.

Penyebaran penyakit ini terjadi apabila terjadi kontak antara unggas dengan material yang telah terkontaminasi. Penyakit ini bukan merupakan penyakit infeksius atau penularan dari ayam ke ayam lainnya. Jamur ini memproduksi lesi seperti area nodul yang keras pada paru-paru dan sekaligus menginfeksi kantung hawa, dengan bentuk seperti terkena infeksi sinus (sinusitis) atau chronic Respiratory Disease (CRD). Jamur ini juga dapat menginfeksi induk semangnya langsung atau ditumbuhkan pada materi ransum tertentu, untuk dapat berkembang jamur memerlukan suhu kelembaban 15-20% dengan kelembaban relatif 80-85% pada suhu 36,2-37,8 0C. Oleh karena itu untuk mencegah tumbuhnya jamur suhu ditetapkan pada 4,5 0C sedangkan pemusnahannya pada suhu 71-100 0C

Gejala yang terjadi akibat penyakit ini pada ayam muda (akut) nampak megap-megap, mengantuk, tidak bergairah, malas, bulu berdiri, dan bergerombol, rasa haus yang meningkat, kerdil dan kadang terjadi kejang dan mati hal ini karena jamur menyebar ke otak dan menyebabkan kelumpuhan atau menimbulkan gejala serangan saraf. Sedangkan untuk ayam dewasa (kronis) nampak kehilangan nafsu makan, bersin, batuk, dan menjadi kurus, anemia, feses berwarna kuning, ngorok (mendengkur), menciap dan paruh terbuka, jengger menjadi gelap dan mengkerut, pial berwarna kebiruan. Pada saat jamur berhasil menyerang induk semang akan terjadi radang, kematian jaringan dan pembentukan nodula berupa tuberkel. Nodula dapat sebesar kacang hijau dan ditemukan di paru-paru, trachea, bronki, kantung udara, peritoneum dan alat-alat lain di rongga perut.

Penularan jamur terjadi dari ayam sakit ke ayam sehat melalui spora di udara, debu dan ransum yang masuk ke dalam tubuh ayam sehat. Aspergillosis juga dapat ditularkan melalui telur (egg borne aspergillosis) dengan masuk melalui kerabang telur selama proses inkubasi sehingga anak yang baru menetas telah terinfeksi.

Pencegahan penyakit biasanya dengan mencegah penggunaan litter, pakan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan ayam terhindar dari kontaminasi jamur. Obat yang efektif untuk memberantas jamur adalah pemberian fungistat (mikostatin, Na atau Ca propionat, gentian violet) bersama dengan ransum. Namun jika ayam sudah terserang jamur dianjurkan untuk dimusnahkan.

  1. Mycotoxicosis

Jamur ini disebabkan oleh racun yang dihasilkan oleh jamur (mycotoxin) dapat tumbuh pada litter dan pakan, organic yang membusuk, biji-bijian, kacang-kacangan. Kontaminasi jamur dapat terjadi saat panen, selama transportasi, dan penyimpan pakan dan jika jamur terdapat toxin/racun termakan oleh unggas dapat menyebabkan kematian. Toxin yang dikeluarkan berasal dari metabolit. Metabolit jamur itu merupakan toxin yang sangat kuat bahkan ada yang menyejajarkannya dengan racun botulinum.

Beberapa tipe jamur menghasilkan toxin yang menyebabkan masalah pada peternakan, dan yang perlu diperhatikan pada industri peternakan adalah toxin yang dihasilkan oleh jamur. Diantaranya Racun yang berbahaya adalah Aflatoxin, Ochratoxin, Trichothecen, Zearalenone dan Citirinin

  1. Aflatoxicosis

Aspergillus flavus yang menghasilkan toxin bernama aflatoxin. Aspergillus flavus adalah jamur yang biasanya tumbuh pada beberapa media diantaranya biji-bijian dan kacang-kacangan. Saat ini diketahui ada 4 jenis aflatoxin yang sangat berpengaruh pada peternakan yaitu aflatoxin B1 (toxin yang paling kuat), B2, G1 dan G2. Beberapa aflatoxin menyebabkan kematian, pertumbuhan terhambat, penurunan produksi telur, penurunan daya tetas, dan menyebabkan immunosupresif.

Jamur aflatoxin dapat berada dipakan yaitu pada saat sebelum dan sesudah panen bahan baku (biji-bijian dan kacang-kacangan) selama penyimpanan dan transportasi pakan serta penyimpanan di gudang. Suhu tinggi, kelembaban, dan curah hujan yang tinggi merupakan factor kondusif bertumbuhnya jamur. Untuk mencegah tumbuhnya jamur pada bahan baku diharapkan penyimpanan pada 8-12 %

Akibat yang ditimbulkan dari aflatoxin adalah merusak kelenjar hati yang merupakan organ pembantu alat pencernaan dan bersifat immunosuppressan, sedangkan akibat lainnya adalah menurunnya performa produksi, terlambat pertumbuhan, dan menurunnya kualitas karkas, menurunnya selera makan yang berimbas pada kurangnya nutrisi pada ayam tersebut. Selain itu jika ayam tersebut dilaksanakan pembedahan dapat dilihat pembesaran, kepucatan, rapuh dan adanya peningkatan perlemakan pada hati, pembesaran ginjal dan limpa, pengecilan/atrofi dari jaringan limfoid seperti bursa fabrisius dan timus, serta pembesaran kelenjar empedu

  1. Ochratoxin

Ochratoxin dihasilkan oleh jamur Aspergillus ocharceceous dan jamur Penicillium viridicatum. Jamur ini menghasilkan racun pada kadar kelembaban relatif dan suhu yang cukup tinggi sedangkan Penicillium menghasilkan ochratoxin pada suhu yang lebih rendah bahkan suhu 5 0C

Gejala yang terjadi adalah untuk ayamm akut akan meningkatkan kematian, nafsu makan turun, konversi ransum jelek dan pertumbuhan berat badan terhambat, lesu, ayam nampak membungkuk, diare, gemetar dan gangguan saraf lainnya

Perubahan patologi anatomi ditemukan hati membesar, warna pucat disertai perdarahan, ginjal pucat dan peradangan usus.

  1. Trichothecen

Kelompok mycotoxin ini dihasilkan oleh Fusarium gramimenearum.

Gejala yang terjadi adalah pertumbuhan terhambat, depresi dan diare berdarah. Necrosa mukosa mulut merupakan gejala yang paling sering terjadi. Luka pada mulut berwarna putih sampai krem, borok biasanya terlihat pada tepi lidah dan sepanjang sisi dalam bagian atas dan bawah paruh.

Perubahan patologi terlihat mukosa gastrointestinal kemerah-merahan, hati bengkak dan berisi getah empedu berwarna burik, limpa mengecil dengan perdarahan visceral.

  1. Zearalenone

Dihasilkan oleh Fusarium graminearum dan F. roseum yang dapat mempengaruhi aktifitas hormon estrogen. Dampak yang terjadi adalah penurunan puncak produksi, namun tidak berpengaruh terhadap kesuburan dan daya tetas telur. Gejala umum yang terjadi adalah ascites, kista oviduk, dan penggelembungan oviduk dengan material fibrinous.

  1. Citrinin

Dihasilkan oleh Penicillium Citrinum dan bersifat nephrotoksik. Unggas yang terserang akan minum secara berlebihan sehingga diare. Gejala tersebut akan hilang apabila ransum diganti dengan waktu penyembuhan 8-10 jam. Citrinin tidak mempengaruhi kekebalan seluler dan humoral.

Penularan dapat terjadi apabila unggas mengkonsumsi ransum atau litter yang terkontaminasi mycotoxin.

Pencegahan dapat dilakukan dengan cara menghambat tumbuhnya jamur dengan pengeringan bahan baku ransum pada kadar air maksimal 12% dan kelembaban maksimal 65%, selain itu pada bahan baku ransum, tempat makan dan minum dicuci dan di rendam dengan desinfektan yang mengandung senyawa iodine. Unggas yang telah terserang jamur ini tidak dapat disembuhkan oleh karena itu solusinya dengan meningkatkan daya tahan tubuh dengan pemberian asam amino berikatan dengan belerang, vitamin B, vitamin E, selenium antioksidan.

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: